Mukomukonews.com – Budidaya ternak ikan lele menggunakan sistem bioflok adalah sebuah sistem pemeliharaan ikan lele menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi sebagai pengolah limbah ikan lele itu sendiri. diolah menajdi gumpalan-gumpalan yang berbentuk kecil yang disebut sebagai flok.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Pulai Payung, Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko, Mustarrudin, SE ketika diwawancarai usai memeriksa air kolam ternak ikan lele sistim bioflok program ketahanan pangan DD tahap 1 tahun 2022 yang berlokasi di pekarangan rumahnya di Desa Pulai Payung, Sabtu (17/7/2022).

Menurut Mustarrudin, SE, Flok tersebut kemudian akan dimanfaatkan sebagai pakan alami lele guna menumbuhkan mikroorganisme yang dipacu dengan cara kultur bakteri non pathogen atau probiotik, serta menggunakan aerator dalam kolam sebagai pengaduk atau sirkulasi air di dalam kolam tersebut.

Mustarrudin, SE kepada awak media juga menyampaikan, langkah awal untuk budi daya ternak ikan lele sistim bioflok adalah menyiapkan kolam dengan menggunakan bahan terpal yang diperkuat dengan rangka besi berbentuk bundar bisa juga dengan persegi empat

“Patokan untuk ukuran luas yang ideal yaitu 1 m3 mampu menampung ikan lele hingga mencapai 1000 ekor berbeda dengan tenak ikan lele dengan sistem konvensional, dimana dengan ukuran tersebut hanya mampu menampung ikan lele sebanyak 100 an ekor saja,” jelasnya.

Lebih jauh dijelaskan oleh Mustarrudin, SE, di Desa Pulai Payung sendiri ukuran kolam ikan lele untuk  program ketahanan pangan DD tahap 1 tahun 2022  berdiameter 2, 5 meter dengan tinggi 1, 5 meter. Ia pun mengatakan,  Peralatan lain yang perlu dipersiapkan untuk kolam ikan lele sistim bioflok diantaranya, mesin aerator yaitu alat yang digunakan untuk memompa air dari dasar kolam naik kebagian atas agar kolam menghasilkan  oksigen  yang baik.

Menurutnya, Setelah kolam yang akan digunakan sudah siap, maka langkah berikutnya dalam cara ternak lele bioflok adalah menyiapkan air untuk kolam ternak ikan lele dengan mengukur  PH air kolam  dengan alat pengukur PH dan pastikan PH nya diatas anggka 7.

“Proses selanjutnya, pada hari pertama ikolam diisi dengan air hingga mencapai ketinggian 80 cm. Hari kedua, memasukan probiotik atau bakteri non pathogen  dengan dosis 5 ml/m3. Jenis probiotik yang kami gunakan adalah jenis merek EM4 ukuran 2 tutup sesuai ukuran kolam berdiameter kurang lebih 2 meter” tuturnya.

Kemudian jelas Mustarrudin, SE, pada hari ketiga memasukkan pakan untuk bakteri pathogen berupa molase atau tetes tebu degan ukuran sebanyak 2 tutup. Dan pada malam harinya menambahkan garam atau dolomite dengan dosis 150-200 gram/m3. Penggunaan dolomite hanya diambil airnya saja setelah itu air kolam itu kemudian didiamkan selama kurang lebih 10 hari supaya mikroorganisme dapat hidup dan tumbuh dengan baik. Ia pun mengatakan, setelah 10 hari maka terbentuklah bioflok atau makanan awal ikan lele itu.

“Tahap selanjutnya adalah penebaran dan perawatan benih ikan lele. Benih ikan lele yang digunakan adalah berasal dari indukan unggulan atau berasal dari induk yang sama. Benih ikan lele yang sehat dapat dilihat dari gerakannya yang aktif, warna dan ukurannya yang seragam, organ tubuhnya lengkap, bentuknya proporsional dengan ukuran sekitar 4-7 cm. Setelah melakukan penebaran benih lele pada kolam bioflok tersebut keesokan harinya ditambahkan probiotik dengan dosis sesuai yang dibutuhkan,” lanjut Kades.

Kembali Kades Pulai Payung, Mustarrudin menerangkan, langkah selanjutnya ialah memasukkan benih ikan lele dengan cara memasukkannya benih ikan lele bersama-sama dengan wadahnya ke air kolam supaya suhu wadah benih dan air kolam sama supaya benih ikan lele tersebut sama dan beradaptasi.

Langkah selanjutnya  jelas Kades setelah benih ikan lele dimasukkan ke air kolam, maka benih ikan lele tersebut kemudian dipuasakan atau dibiarkan tidak diberi pakan selama 1 hari 1 malam namun ke esokan harinya diberi pakan dengan cara pakannya direndam dengan air secukupnya dan diremas hingga pakan lembek setelah itu  baru diberikan ke ikan lele yang berada di kolam ikan lele tersebut.

“Pemberian pakan dengan cara seperti ini dilakukan berturut-turut selama 2 minggu. Dan setelah 1 bulan berikutnya, ikan lele yang berada di kolam kemudian disortir dan dilakukan perawatan secara rutin. Demikianlah cara berternak ikan lele berdasarkan pengalaman yang kami dapat melalui pelatihan dari BPP sebelumnya. Lain orang lain pula caranya.” Pungkas Kades Pulai Payung. (asp).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here