Mukomukonews.com – Ratusan nelayan tradisional di kawasan pantai Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko, menjerit kehilangan pendapatan karena kesulitan melaut akibat pendangkalan yang terjadi di muara Sungai Pasar ipuh dan Pulau Baru, yakni sungai yang menjadi akses pintu masuk perahu menuju laut dan pendangkalan di Tepian Pantai sentral perahu nelayan.

Ironisnya, pada saat pasang surut, selain harus rela mengantre, para nelayan juga harus rela mendorong perahu mereka satu per satu agar bisa melewati bagian muara yang masih tergenangi air.

Dari pengamatan mukomukonews, puluhan perahu nelayan di sentral tepian pantai tampak berhenti tidak melaut diduga karena mengalami kerusakan atau karena takut melaut akibat pendangkalan. Disamping itu juga akibat faktor cuaca alam buruk.Inun, seorang pemilik perahu yang dituakan masyarakat di kawasan tepi pantai Pasar Ipuh ini, saat diwawancarai oleh awak media mukomukonews.com, Rabu, (4/8/2021) membenarkan hal itu.

Menurut Inun, akibat terjadinya pendangkalan di sentral perahu tepian pantai dan muara pintu masuk menuju ke laut, sedikitnya 400 orang nelayan kehilangan pendapatan karena berhenti melaut.

“Yang dulunya sungai di muara dan ditepian pantai yang mencapai kedalam 1 meter, kini hanya tersisa sekitar 0, 5 meter. Ketika pasang naik muara masih bisa dilewati perahu, tetapi ketika pasang surut terjadilah pendangkalan atau kedalaman hanya 0, 5 meter, bahkan sebagian sungai lainnya mengering atau hanya tergenangi sedikit sehingga tidak bisa dilalui perahu. Jadi nelayan dengan perahu tradisional berkapasitas 10 anak buah kapal (ABK) pun saat ini terpaksa berhenti melaut karena perahu nelayan selalu kandas,” jelas Inun.Inun menyampaikan, seluruh para nelayan yang ada dikawasan Kecamatan Ipuh berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Mukomuko maupun Provinsi untuk mengatasi Pendangkalan yang terjadi di muara Sungai Pasar Ipuh dan Pulau Baru, sehingga masyarakat para nelayan tidak kehilangan pendapatan sehari hari.

“Kita dan semua nelayan di Kecamatan Ipuh ini, sangat berharap kepada pemerintah terutama di tepian pantai tempat sentral perahu nelayan yang kini sudah dangkal bagaimana caranya supaya menjadi dalam sehingga masyarakat nelayan dapat lancar beraktifitas untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari hari. Karena kalau ini tidak segera teratasi maka dampaknya akan buruk sebab ribuan masyarakat mengharapkan penghasilan dari melaut.” Harap Inun.

Disisi lain, Jumadil Awal yang juga merupakan nelayan di daerah ini kepada mukomukonews.com mengatakan, pendangkalan ini terjadi akibat gempuran ombak pada musim angin timur, ombak besar itu membawa pasir dan meninggalkannya pada muara sungai hingga menimbulkan endapan. Menurutnya, Kondisi ini sudah berlangsung sekitar 15 hari terakhir.

Jumadil Awal memperkirakan, kondisi tersebut akan semakin parah karena musim angin timur biasanya berlangsung lebih lama.

“Kami para nelayan sekarang ini bukan mengeluh lagi tapi sudah menjerit karena sudah 15 hari aktifitas melaut terhambat karena pendangkalan di muara juga faktor cuaca ombak besar. Untuk itu kami para nelayan ini sangat berharap adanya perhatian dari Pemerintah, karena hal ini selain menghambat aktivitas melaut, pendangkalan muara sungai juga dan tepian pantai merusak perahu nelayan. Jadi harapan masyarakat nelayan agar pemerintah bisa membangun tembok pembatas di muara sungai yang dangkal dan mendalamkan tepian pantai sentral perahu nelayan tersebut sehingga aktivitas nelayan bisa normal kembali,” Pungkasnya. (asp).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here